Kemenko PMK-Perpusnas Dorong Penguatan Literasi Kebencanaan Berbasis Sejarah

KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melakukan pertemuan dalam rangka mendorong penguatan literasi kebencanaan melalui pemanfaatan narasi sejarah, manuskrip, serta pengembangan kapasitas penyelamatan koleksi pustaka yang terdampak bencana, pada Kamis (27/8/2026).

Pertemuan tersebut menekankan pentingnya menghubungkan literasi kebencanaan dengan literasi sejarah dan kebudayaan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran serta menjaga memori kebencanaan masyarakat.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana, Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menyampaikan potensi Perpusnas dalam mengembangkan narasi kebencanaan yang bersumber dari sejarah, manuskrip, cerita rakyat, dan pengetahuan lokal.

Salah satu contoh yang dibahas adalah naskah Warugan Lemah yang memuat pengetahuan mengenai tata letak dan pembangunan rumah di wilayah Sunda sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana.

Andre menjelaskan bahwa narasi sejarah dan manuskrip dinilai dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menjaga memori kebencanaan masyarakat agar tidak terputus. Perpusnas juga memiliki peran strategis dalam mengolah dan menyebarluaskan pengetahuan tersebut melalui jejaring perpustakaan di daerah.

Selain penguatan literasi, pertemuan membahas kendala Perpusnas dalam melakukan penyelamatan manuskrip dan koleksi langka saat terjadi bencana. Manuskrip yang umumnya berbahan kertas dan daluang memerlukan penanganan cepat, namun Perpusnas masih menghadapi keterbatasan akses untuk segera hadir di lokasi terdampak. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan hilangnya golden time dalam penyelamatan koleksi dari kerusakan lebih lanjut.

Untuk mengatasi hal tersebut, dibahas penguatan koordinasi dan mekanisme penanganan agar objek budaya, khususnya manuskrip dan koleksi pustaka, turut diperhitungkan dalam penanganan awal bencana. Dalam pembahasan juga mengemuka pentingnya mekanisme  first responder untuk objek budaya serta penguatan kapasitas daerah melalui transfer pengetahuan, sehingga penyelamatan koleksi dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.

Kemenko PMK dan Perpusnas selanjutnya mendorong penguatan kolaborasi dalam pengembangan literasi kebencanaan berbasis sejarah dan kebudayaan, termasuk penyusunan dokumentasi pascabencana serta penguatan mekanisme penyelamatan manuskrip. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pengetahuan dan memori kebencanaan masyarakat sekaligus menjaga warisan pengetahuan dan budaya bagi generasi mendatang.

Kontributor Foto:
Reporter: