Menko PMK Ajak Mahasiswa Baru Bangun Growth Mindset, Learning Agility, dan Keterampilan T-Shaped
KEMENKO PMK -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengapresiasi dan mendukung minat mahasiswa baru terhadap bidang studi yang semakin relevan dengan kebutuhan dan tantangan di masa depan, khususnya bioteknologi dan biomedis. Menurutnya, pilihan bidang keilmuan perlu diarahkan untuk menjawab tantangan dan perkembangan dunia yang semakin dinamis.
Pratikno mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menekuni bidang keilmuan utama, tetapi juga membangun growth mindset, learning agility, integritas, serta keterampilan T-shaped sebagai bekal menghadapi perubahan. Kemampuan tersebut penting agar mahasiswa mampu terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kompetensi lintas bidang.
"Yang penting bagi kita itu adalah growth mindset. Tantangan dalam proses belajar itu terus ada, tidak bisa itu wajar. Yang penting berani mencoba. Itulah yang sangat penting Anda sebagai anak muda punya growth mindset, mindset untuk tumbuh, belajar terus. Kalau enggak bisa coba lagi, jangan pernah lelah untuk belajar," ujar Menko PMK.
Menurut Pratikno, T-shaped skills memungkinkan seseorang memiliki satu keahlian yang dikuasai secara mendalam sekaligus wawasan luas untuk berkolaborasi dan memahami berbagai perkembangan di sekitarnya. Garis vertikal menggambarkan keahlian utama yang ditekuni secara mendalam, sedangkan garis horizontal mencerminkan wawasan seperti komunikasi, teknologi, kerja sama, dan pemahaman terhadap masyarakat.
"Garis tegak, satu keahlian utama. Pilih, tekuni, latih, jadikan karya. Garis datar, wawasan luas: kerja sama, komunikasi, teknologi, memahami masyarakat," jelasnya.
Selain keterampilan, Pratikno menekankan pentingnya learning agility, yakni kemampuan untuk terus belajar secara lincah dan beradaptasi dengan perubahan. Menurutnya, mahasiswa tidak harus terpaku pada jalur keilmuan yang linear karena dunia yang dihadapi setelah lulus dapat bergerak ke berbagai arah.
"Bisa lulus S1 lanjut linear S2 itu wajar, tetapi melanjutkan studi lanjut yang tidak linear dan sukses lulus itu adalah pembelajar sejati," ujarnya.
Pratikno juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Di tengah semakin banyaknya orang memiliki gelar sarjana, nilai seseorang akan semakin ditentukan oleh karya, kontribusi, serta manfaat yang dihasilkan.
"Jangan hanya terbebani, bahwa saya harus sarjana. Itu betul, ijazah betul, tapi hampir semua orang punya ijazah. Nanti ke depan semua orang punya ijazah sarjana, makin inflasi, tidak ada harganya ijazah. Yang dihargai orang adalah pada akhirnya adalah apa yang pernah Anda perbuat, karya apa yang pernah Anda produksi, kontribusi apa yang pernah Anda lakukan," katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa membangun integritas dan menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal untuk memberikan kontribusi nyata. Menurutnya, keberhasilan seorang pembelajar tidak hanya tercermin dari apa yang diketahui, tetapi dari bagaimana pengetahuan tersebut diwujudkan dalam karya dan manfaat bagi lingkungan.
"Pada akhirnya Anda bisa jujur walau tidak diawasi, Anda selalu berkarya walau tidak diuji, Anda bermanfaat walaupun tidak ada kamera yang mengikuti. Inilah kontribusi nyata untuk bangsa," pungkasnya.
Pratikno turut mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, membangun hubungan sosial dan spiritual yang baik. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi membentuk SDM unggul yang sehat, berkarakter, dan kompeten.
Sebelumnya, Pratikno membagikan perjalanan pendidikannya sejak tumbuh di Bojonegoro hingga menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Ia mengenang masa sekolah yang dijalani dalam berbagai keterbatasan dan kesulitan hingga mengantarkannya menjadi seperti sekarang. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tantangan dapat menjadi ruang untuk membangun keberanian, kepercayaan diri, dan kemauan untuk terus berkembang.
"Belajar di kampus ini benar-benar kesempatan Anda untuk tumbuh. Jangan sampai di kampus hanya sekadar sampingan daripada tidak keterima pekerjaan. Kuliah adalah tempat untuk tumbuh," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK berinteraksi dengan mahasiswa dan mahasiswi baru Agung Putra University (APU) serta mengapresiasi antusiasme mereka yang berani tampil menjawab pertanyaan, termasuk menggunakan bahasa Inggris. Ia juga mengapresiasi berbagai program studi APU yang dinilai relevan dengan kebutuhan masa depan dan dunia industri, meliputi S1 Ilmu Biomedis, S1 Bioteknologi, S1 Hukum, S1 Manajemen, S1 Ilmu Komunikasi, S1 Kebidanan, dan D3 Kebidanan.
Pesan tersebut disampaikan Menko PMK saat mengisi materi pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Agung Putra University, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (1/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Rektor sekaligus Pendiri Agung Putra University Prof. Dr. dr. Agung Putra, M.Si. Med., jajaran pimpinan dan dosen APU, panitia PKKMB, serta mahasiswa-mahasiswi baru.