KEMENKO PMK — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar Simulasi Respons Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru (PIB) lintas sektor sebagai langkah strategis menuju aktivasi Sistem Informasi Zoonosis dan Emerging Infectious Diseases (SIZE) secara nasional, di Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis (1/10/2026).
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK Sukadiono menyampaikan bahwa agenda tersebut merupakan bagian krusial yang menjadi tahapan penting dalam peta jalan operasionalisasi SIZE 2025–2029.
Menyikapi eskalasi ancaman kesehatan global, Sukadiono yang juga bertindak selaku Pengarah Tim Pelaksana Swakelola CARE-I menegaskan bahwa integrasi sistem informasi adalah kunci utama penanganan wabah.
“Kesiapsiagaan lintas sektor sangat penting dalam menghadapi potensi eskalasi penyakit zoonosis dan penyakit infeksius baru. SIZE hadir sebagai instrumen penghubung yang mempertemukan data kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu ekosistem informasi yang terpadu,” ujar Sukadiono.
Melalui kegiatan ini, pemerintah menguji keterhubungan data dua arah secara langsung antara SIZE dengan berbagai sistem sektoral, yakni Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, ISIKHNAS Kementerian Pertanian, dan SehatSatli Kementerian Kehutanan.
Alur notifikasi, respons lapangan, pencatatan, hingga pengiriman umpan balik data dipantau ketat untuk mengidentifikasi temuan teknis sebelum sistem diaktivasi serentak di wilayah Jawa–Bali dan Nusa Tenggara. Hasil simulasi ini akan menjadi fondasi penyempurnaan operasional sistem sekaligus memperkuat kesiapan pengguna di pusat maupun daerah.
Sebagai informasi, simulasi ini merupakan rangkaian dari program Swakelola CARE-I yang didukung oleh hibah Pandemic Fund. Program ini turut berkolaborasi dengan pendanaan dari mitra kerja EPIC-GHS untuk wilayah uji coba Kota Surabaya dan Kabupaten Malang, serta STRIDES-GHS untuk wilayah Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Sukoharjo.
Sinergi lintas sektor tersebut melibatkan kementerian terkait di pusat (Kementan, Kemenkes, Kemenhut, Kemendagri) hingga dinas terkait di daerah (Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Peternakan, dan perikanan), serta unit ujung tombak respons lapangan seperti Puskesmas dan Puskeswan, dengan dukungan teknis dari FAO Indonesia.
Turut hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut, Staf Ahli Bidang Hukum dan Tata Kelola Pemerintahan Kemenko PMK Aris Darmansyah Edisaputra, Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas dan Ketahanan Kesehatan selaku Ketua I Tim Pelaksana Swakelola CARE-I Nancy Dian Anggraeni, serta Kepala Biro Digitalisasi dan Pengelolaan Informasi Kemenko PMK Agung Gumilar Triyanto.