KEMENKO PMK -- Asisten Deputi Ketahanan Keluarga dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Mustikorini Indrijatiningrum menegaskan bahwa penguatan ketahanan keluarga dapat diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor agar berbagai program pembangunan berjalan terpadu dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan saat memimpin kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pelaksanaan Kampung Keluarga Berkualitas dan Kampung Zakat di Desa Guwa Lor, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, pada Kamis (30/7/2026).
Menurut Indri, Kampung Keluarga Berkualitas menjadi wadah integrasi berbagai program pembangunan keluarga yang akan semakin optimal ketika disinergikan dengan Kampung Zakat. Sinergi tersebut memungkinkan berbagai intervensi pemerintah dan para pemangku kepentingan berjalan lebih terpadu sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
"Kampung Keluarga Berkualitas merupakan wadah integrasi berbagai program pembangunan keluarga. Ketika disinergikan dengan Kampung Zakat, berbagai intervensi pemerintah, lembaga keagamaan, dunia filantropi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat saling menguatkan sehingga manfaatnya semakin besar bagi peningkatan kesejahteraan keluarga," ujar Indri.
Dalam kesempatan tersebut, Kemenko PMK turut menyosialisasikan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (GerNas RANA) sebagai bagian dari penguatan perlindungan anak di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital. Salah satu implementasinya adalah Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga (SatuJamKu), yang mengajak setiap keluarga meluangkan sedikitnya satu jam setiap hari untuk berinteraksi tanpa gawai guna memperkuat komunikasi, meningkatkan kualitas pengasuhan, serta mencegah kekerasan terhadap anak.
Ia menambahkan, pembangunan keluarga tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, Kampung Keluarga Berkualitas diharapkan menjadi pusat integrasi berbagai layanan, mulai dari kesehatan, pendidikan, administrasi kependudukan, perlindungan perempuan dan anak, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga penguatan nilai sosial dan keagamaan. Berbagai praktik baik yang telah dilaksanakan juga diharapkan dapat didokumentasikan dan disebarluaskan melalui platform Kampung Keluarga Berkualitas.
Monitoring dan evaluasi dihadiri oleh Camat Kaliwedi, Kepala Desa Guwa Lor, Perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, perwakilan DP2KBP3A Kabupaten Cirebon, penyuluh KB, kader TP PKK, tenaga kesehatan, pengelola Kampung Keluarga Berkualitas, pengelola Kampung Zakat, Rumah Amal Salman, tokoh masyarakat, serta berbagai mitra pembangunan.
Kepala Desa Guwa Lor H. Maksudi menyampaikan bahwa sejak ditetapkan sebagai Kampung Zakat pada 2024, berbagai program pemberdayaan dari lembaga zakat dan filantropi telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, balita, dan anak sekolah di Desa Guwa Lor berjalan dengan baik.
Senada dengan itu, Camat Kaliwedi Hardomo mengatakan seluruh desa di Kecamatan Kaliwedi telah berstatus Kampung Keluarga Berkualitas kategori berkelanjutan. Menurutnya, integrasi berbagai layanan di tingkat desa menjadikan Kampung Keluarga Berkualitas sebagai instrumen penting dalam memperkuat pembangunan keluarga. Desa Guwa Lor juga berkembang sebagai contoh praktik baik kolaborasi lintas sektor, termasuk melalui keterlibatan perguruan tinggi dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Sementara itu, Perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon Mulyadi menjelaskan bahwa Kampung Zakat merupakan upaya mengoptimalkan pemanfaatan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya secara terintegrasi, tidak hanya untuk bantuan sosial tetapi juga pemberdayaan masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi, sosial, dan spiritual.
Kegiatan monev ini bertepatan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Bandung (ITB) Tahun 2026 dan UIN Sunan Kalijaga di Desa Guwa Lor. Melalui skema KKN Mandiri Cirebon, mahasiswa ITB mengembangkan Program Tirta Masjid yang berfokus pada optimalisasi sistem penyediaan air bersih berbasis masyarakat sebagai bagian dari keberlanjutan Program Kampus Berdampak. Sementara itu, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga memfokuskan kegiatan pada penguatan pengelolaan lingkungan melalui edukasi dan pendampingan bank sampah berbasis masyarakat.
Asisten Deputi Kemenko PMK Mustikorini Indrijatiningrum turut mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Guwa Lor. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, dan masyarakat merupakan implementasi nyata pendekatan pentahelix dalam pembangunan.
"Kolaborasi ini memungkinkan berbagai inovasi dan teknologi tepat guna dapat diterapkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujar Indri.
Melalui penguatan sinergi Kampung Keluarga Berkualitas dan Kampung Zakat, Kemenko PMK berharap pembangunan keluarga berbasis desa semakin mampu memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempercepat penurunan kemiskinan, serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.